Saat itu, semua peserta MOS sedang mengikuti sebuah ceramah tentang Kepribadian di aula. Satu jam kemudian, acara itu pun berakhir. Kami harus segera kembali ke kelas untuk mengikuti acara selanjut nya. Tapi, gangguan muncul tanpa undangan.
"Kalian! Sini!" kata pemuda itu.
"Ada apa, Kak?" balas Dina.
"Maaf, Kak. Kami sudah membuat kesalahan apa?" tanya ku.
"Loe sudah melawan dan membantah gue! So, sekarang loe berdua harus gue hukum karena kesalahan tersebut!" teriak Mike. Kami pun merasa sedikit takut. terutama diri ku yang merasa bersalah karena sudah membuat Dina dalam masalah seperti ini. Tapi, betapa senang nya hati ku, karena Tuhan selalu menolong umat nya. Tak sengaja ku lihat lengan kiri kakak kelas ku itu, dan aku pun menyadari keberadaan pita biru yang seharusnya menghiasi lengan kiri nya.
"Maaf, Kak, kami harus kembali ke kelas."
"Loe boleh kembali ke kelas kalau sudah melaksanakan tugas dari gue."
"Maaf, Kak, kami harus kembali ke kelas."
"Ow, jadi loe pengen dapet hukuman double??" gertak Mike. Aku yang menyadari kondisi pita itu, segera pergi dan tidak mempedulikan nya. Tapi, kepergian kami ini, harus tersendat kembali. Mike yang pantang menyerah segera menghampiri ku, lalu bertanya dengan suara lantang. Ia berkata bahwa aku harus melakukan semua perintah nya sebelum aku pergi. Melihat amarah nya itu, aku dan Dina pun takut. Tapi, aku berusaha membuang rasa itu.
"Maaf ya, Kak! Kakak tidak punya hak apapun untuk menghukum kami!"
"Apa loe bilang?! Gue nggak punya hak? Gue itu panitia MOS! So, gue punya hak untuk menghukum kalian!"
"Ow, jadi kakak punya hak ya?" tanya ku sambil menahan tawa. "Kalau gitu bisa buktikan kalau kakak punya hak?"
"Bu, bukti?"
"Asal kakak tahu ya, semua panitia MOS harus memakai pita biru di lengan kiri nya. Tapi, masalah nya, kakak tidak memiliki pita itu. Jadi, kami tidak perlu menuruti perintah kakak. Kalau gitu, kami pergi. Yuk, Din!" Aku dan Dina pergi sambil menahan tawa kembali ke kelas untuk mengikuti kegiatan MOS. Kami bersyukur tidak mendapat hukuman karena datang terlambat. Yah.... untungnya bakat akting ku masih di atas rata-rata. Jadi aku bisa meyakinkan kakak kelas bahwa kami sudah minta ijin untuk pergi ke toilet.
-oOo-
Hari berganti, tapi masa-masa MOS masih harus tetap ku jalani. Yah.... aku benar-benar harus bersabar. Tapi, aku beruntung bisa melewati 1 hari MOS tanpa ada gangguan. kecuali dari kakak kelas yang resek itu. Hmm.... kalau ingat wajah nya saat itu, aku benar-benar ingin tertawa. Betapa konyol tampangnya saat itu.
"Hi..hi...hi... pasti hari ini dia nggak akan berani macam-macam sama aku."
"Veve!! Kamu sedang apa? Sudah jam setengah tujuh lho, kamu tidak berangkat sekolah?" tanya Mama ku dari bawah.
"Iya, Ma. Sebentar." jawab ku. Haduh... ini semua gara-gara cowok resek itu sih! Kata ku di dalam hati.
Dengan hati-hati, aku segera berlari menuruni tangga dan melesat dengan mobil bersama sopir. Ini hari kedua ku menjalani MOS, dan ku sudah tidak merasa berdebar-debar lagi. Tapi, jujur, masih ada sdikit hal yang mengganjal di hati ku. aku pun menyadari nya setelah ku bertemu dengan Dina saat ku tiba di gerbang sekolah. Aku terus bertanya kepada Dina, apakah ada yang kurang dari artibut yang ku pakai. Walau Dina sudah berkali-kali berkata tidak, aku masih saja menanyakan nya. Ya, aku takut akan membuat kesalahan.
Gubrak!!! "Eh, maaf-maaf."
"Loe lagi?" teriak Mike yang terkejut. "Loe tu bisa jalan nggak sih? Bisa nya kok cari masalah saja?"
Sambil melihat nya berlalu, aku pun menggerutu, sementara Dina dengan sabar menenangkan ku. Benar-benar tak kusangka, aku akan bertemu dengan orang itu lagi. Yah.... sejak kejadian kemarin, aku berpikir dia tak akan berani memunculkan wajah nya dihadapan ku. Tapi, sepertinya aku salah. Ternyata dia adalah orang yang tak tahu malu.
"Hi...hi..hi.. rasa in loe!"
sip2
BalasHapus^_^