Senin, 15 Maret 2010

KenanganQ Tertinggal di Jogja

Terlihat kantin kampus penuh dengan mahasiswa yang sedang asyik ngobrol sambil makan makanan favorite mereka. Hanya satu tempat tersisa di bagian bawah. Akhirnya, Veve dan teman-teman nya pun segera menghampiri tempat kosong tersebut untuk menikmati hidangan yang telah mereka pesan sambil membicarakan rencana ke Jogja.
“Deris ma Bella ke mana?? Kok tumben ga ikut ke kantin??” tanya Edward penasaran.
“Bella ngurusin uang mubes, kalo Deris……, aku lupa. Kata na ada urusan gitu deh.” jawab Veve. “O iya, Nit, kamu bawa lepi na kan??”
“Iya, aku bawa. Aku liat tugas flash mu ya.”

“Yups. Aku juga liat punya mu ya. Trus punya na Bella n Deris.”
“Sip2! Kemarin aku liat punya na Bella bagus banget. Hmmm……… q ga sabar ni pengen liat punya mu. Pasti bagus banget. Kalo tempat ku Cuma sederhana ug.”
“Eh, nanti aku dibantuin ya nambah suara na.” ucap Ian.
“OC!!” jawab Veve dengan singkat na.
Lepi, eh, laptop maksud na. ^_^ Hmmm…… laptop pun siap menyala dan macromedia flash pun dibuka. Flasdisk pun telah menancap di samping laptop di mana lubang flasdisk berada. Menonton pun dimulai. Melihat hasil karya teman-teman yang indah dan kreatif, yang akhirnya mulai terkumpul dan siap untuk dikumpulkan kepada Dosen.
“Masih kurang sapa aja, Ve?” tanya Nita.
“Masih kurang 16 orang. Hmmm…… Ward, kamu ga ngumpul tugas flash na??”
“Ga. Aku ngumpul besok ja.”
“Lho??? Napa ga sekarang aja?? Ni mumpung lum diburn. Mang kamu lum buat???”
“Belum.”
“O la!! Dasar kau!! Tapi, aku rasa besok belum tentu kamu ngumpulin deh.”
“He..he..he…… biasa kan. Kaya tugas paper tu, mpe sekarang juga belum ngumpul. He..he..he..”
“La mbok udah sekarang ja ngumpulin na. Sekalian ni lo.”
“He eh, Ward. Lagian ni aku baru aja dapet jarkom kalo ngumpulin tugas nya jam 3. Jadi masih ada waktu banyak banget.”
“Tapi aku dah malesi??”
“Dasar kau!! Yo wis lah, terserah aja.”
“Buat sekarang ae tho, Ward. Ni lo mumpung ada laptop.”
“Iya-iya, aku tak buat.”
“Nah, gitu kek.”
“Hai!! Gimana tugas nya??” tanya Bella yang akhirnya selesai dengan urusan nya di susul dengan kepergian Cece pulang ke rumah karena HP lowbat.
“Udah pada ngumpul kok. Cuma kurang 5 orang lagi.” jawab Veve.
“O iya, rencana ke Jogja na jadi kan??”
“So pasti jadi dunk, Mi.” jawab Veve yang terbiasa memanggil Bella dengan sebutan Mumi. “Eh iya, ayo Ward, ikut ke Jogja. Besok sabtu. Ayo, Yan.”
“He eh, Ward, Yan. Ayo ikut. Nanti kita ke Jogja na naek prameks dari Balapan.”
“Iya, Ward, Yan. Sebelum e kita kumpul di kampus dulu, trus baru ke Balapan.”
“Wew…… ya emoh lah, rumah ku kan deket dari Balapan. Masa aku harus ke kampus dulu.”
“Lha gimana?? Ya udah deh, pa kita kumpul na di Balapan langsung ja.”
“Iya ga pa-pa. Berarti kamu ikut kan, Ward??”
“Ya, ga tau.”
“Lho, gimana to??”
“Mang Cece ikut?? Kalo Cece ikut, aku ikut. Tapi kalo ga, ya… aku juga ga.”
“Wew……… piye ig?? Tapi Cece ikut og. Berarti kamu ikut kan??”
“Ya…… ga tau.”
“O… awas koe, Ward lo ga ikut.”
“Halah, gampang lah. Kan masih besok Sabtu to? Masih lama.”
Hmmm…… Jogja. Ya… itu lah planning Veve dan kawan-kawan. Pergi ke Jogja setelah jenuh dengan rutinitas yang ada. Menikmati hari-hari indah bersama di Jogja dan menciptakan kenangan yang tak terlupakan.
Dan hari itu pun tiba, Sabtu, 9 Januari 2010 tepatnya. Di mana rencana menjadi kenyataan. Veve, Deris, Bella, Nita, Edward, dan Albert pun berangkat ke Jogja tanpa Cece yang tak dapat ikut karena harus bekerja.
Banyak hal yang terjadi sebelum mereka berangkat. Dari bingungnya menentukan transportasi yang akan digunakan hingga terlambatnya Veve karena kebanan di pertengahan jalan menuju rumah Albert. Akan tetapi, hal tersebut masih belum dapat mengurungkan niat mereka untuk menjelajahi Jogja.
Brmmmm……… suara montor pun menderu. Semua perlengkapan telah siap dibawa dan semua orang pun telah berkumpul. Hanya dengan mengandalkan ingatan Veve akan jalan menuju Jogja, mereka pun mulai menjalankan motor mereka menuju Jogja.
Belum sampai kabupaten Klaten, mereka harus berhenti sejenak untuk mengenakan jas hujan karena akhirnya hujan mulai mengguyur. Kemudian perjalanan pun dilanjutkan dan mereka pun sampai di Delanggu. Di sana mereka berhenti sejenak untuk melepas jas hujan mereka sebab hujan telah reda dan langit cerah mulai mewarnai perjalanan mereka ke Malioboro.
“Nanti kalo belok bilang ya.” pinta Albert yang di sambut dengan jawaban OC oleh Veve. “Temen-temen mu masih di belakang kan?”
“Masih kok.”
“Eh, nanti kalo ada pom bensin ngisi dulu ya.” ucap Bella.
“OC! Aku juga ngisi ug, Mi.”
“Lho, kamu ga ngisi, Ward?” tanya Veve ketika mereka telah sampai di sebuah pom bensin.
“Eh, ni masih cukup kan?” tanya Edward pada Deris si pemilik montor.
“Masih kok. Kan sebelum berangkat tadi kita dah ngisi.”
Dan mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju Jogja. Tepatnya ke Malioboro. Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan serta telah membuat punggung Edward cukup pegal. Pada akhirnya, mereka pun sampai di Prambanan. Tapi, perjalanan mereka menuju Malioboro masih cukup panjang. Dan hal tersebut tidak membuat mereka menyerah, melainkan semangat ke Jogja semakin menggebu-gebu.
“Jeyeg, mending kamu pelan-pelan aja deh, coz kok aku ga liat temen-temen ya?”
“Masa? OC deh, kalo gitu aku pelan-pelan aja.” jawab Albert.
Rasa khawatir Veve pun mulai muncul. Hampir setiap detik Veve menoleh kebelakang. Mencari tahu apakah teman-teman nya telah terlihat di belakang mereka atau kah belum. Hingga mereka pun memutuskan untuk berhenti sejenak di tepi jalan dan menanti teman-teman mereka.
“Bentar. Aku tak coba sms mereka.” ucap Veve.
Dan Nita pun membalas sms Veve. Kelegaan mulai merayapi hati Veve. Apalagi ketika Veve dan Albert tahu bahwa Nita dan yang lain berada tak jauh di dekat mereka. Kemudian perjalanan pun di lanjutkan. ‘Malioboro, we are coming!!!’ Yups, kata-kata itu senantiasa terlintas dalam benak mereka masing-masing.
“Ni lewat mana?”
“Hmmm… lurus mungkin. Sik, bentar.” ucap Veve yang bingung harus mengambil jalan ke kiri, kanan, atau kah lurus saat mereka tiba di Stasiun Tugu. Lalu, Bella pun mengambil keputusan untuk memimpin perjalanan. Hingga tiba lah mereka di Malioboro.
Setelah sampai di Malioboro, mereka bingung mencari makan. Akhirnya diambil keputusan untuk makan di mall Malioboro. Saat di mall itupun, mereka masih bingung untuk menentukan makan apa. Sambil memikirkan mau makan apa, mereka pun asyik berfoto-foto di escalator. Dan sampai lah mereka di food cord. Tempat di mana semua makanan berkumpul. Mereka pun berhenti di counter KFC. Pemesanan pun di mulai.
“Lho? Kok ga jadi pesen?” tanya Veve yang telah mendapatkan tempat duduk pojok, penasaran .
“Biaya untuk makan ma beli barang-barang kurang.”
“Ow. La terus gimana??”
“Tadi tu 17.ooo buat berdua ya?? Hmm…… gimana? Pada mau ga?”
“Gini aja, kita pesen paket berdua itu aja. Aku sama Nita terus Deris sama Veve dan Edward sama Albert. Gimana? Ga pa-pa kan, Ward?? Sekali-sekali makan nasi.”
“Yo… wis ga pa-pa.” ucap Edward pasrah.
“Wis… keajaiban ni!! Edward makan nasi!” kata Veve yang disusul dengan ketawa teman-teman.
Ayam crispy KFC. Itu lah yang Bella dan teman-teman pesan. Sementara Veve hanya memesan minum. Karena ia telah membuat bekal untuk nya dan Albert. Bekal berupa nasi goreng kornet dan tahu kornet goreng.
“Harus e kamu jangan bawa bekal nya cuma satu.” ucap Deris.
“He…he…he… iya maap. Kapan-kapan deh aku masakin.” balas Veve.
Mereka pun mengawali makan mereka dengan mencuci tangan di washtafel yang tak jauh dari tempat mereka duduk. Terlihat Veve yang kebingungan karena air tidak kunjung mengalir dari keran. Dan sangat tak disangka ternyata Veve salah menggunakan keran tersebut. Keran yang seharusnya ditekan, tetapi malah diputar oleh Veve. So…… air pun tak kan pernah mengalir keluar. Rasa malupun mulai muncul. Tapi, Veve cukup beruntung karena tidak ada orang yang tahu kejadian tersebut.
Setelah selesai mencuci tangan masing-masing, acara dilanjutkan dengan berdoa dan akhirnya makan pun dimulai. Semua nya habis tanpa sisa, kecuali tahu kornet Veve yang tak habis karena semua sudah kenyang. Lalu, sesi foto pun dimulai kembali. Sambil menanti seluruh makanan turun ke perut, mereka pun asyik berfoto tanpa memperdulikan orang-orang disekitar yang mungkin sedang membicarakan mereka.
Jalan-jalan kembali dilanjutkan. Pencarian barang-barang pun dimulai. Kios-kios di sepanjang Malioboro pun segera mereka serbu untuk medapatkan barang-barang yang mereka cari. Selama menuju kios yang berada di seberang jalan dari mall Malioboro, Bella pun berusaha untuk mengabadikan kenangan tersebut melalui video.
“Eh, ini bagus ga?” tanya Deris ketika mereka telah sampai pada sebuah kios aksesoris.
“Bagus kok. Cocok banget.”
“Bel, gimana? Cocok ga?”
“Cocok.”
“Hmmm…… mas, ini berapa?”
“25.ooo mbak.”
“Ga bisa kurang to mas?”
“Bisa mbak.”
“Berapa mas?”
“La, mbak nya mau nawar berapa?”
“7.500 ya mas.”
“Waduh, ga bisa mbak. 15 aja. Itu sudah harga pas mbak.”
“7.500 ja mas.”
“Kalo ini berapa mas?”
“Itu, 5.000 mbak.”
“Aduh mas, mahal banget!! 2.000 aja.”
“Wah… ga bisa mbak.”
“Ya udah deh.” ucap Bella sambil pergi meninggalkan kios disusul teman-teman nya. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menyusuri Malioboro. Langkah mereka senantiasa terhenti setiap menemukan kios yang menjual kaos dan berharap kios tersebut menjual kaos The Beatles idola Bella. Sayang, dari setiap kios yang mereka kunjungi, tak satu pun yang menjual kaos tersebut. Tapi, mereka pun tetap bersemangat dan masih melanjutkan perjalanan mereka hingga berhenti pada sebuah kios topi di mana Deris bermaksud membeli salah satu topi untuk adik laki-laki nya.
Tak jauh dari kios topi tersebut, dijual aksesoris. Dan diantara aksesoris tersebut, Veve menemukan sebuah kalung salib yang indah. Veve pun segera memberitahu Albert. Mengingat Albert sangat menginginkan kalung salib. Setelah bernegosiasi cukup lama, akhirnya Albert pun mendapatkan kalung tersebut. Begitu juga dengan Deris.
Setelah puas, mereka pun memutar haluan mereka kembali ke arah semula mereka berjalan untuk menemui Bella dan Nita yang tadi sempat berpisah untuk mencari kaos The Beatles. Ternyata kepuasan tak hanya di rasa kan oleh Deris dan Albert. Usaha Bella pun membuahkan hasil. Kaos yang sangat ia inginkan pun berhasil didapat. Sementara Nita, akhirnya membeli sebuah daster batik.
“Mas, 7.500 ya.” kata Deris ketika ia melewati kios aksesoris yang sebelumnya sempat ia kunjungi.
“Gini aja deh mbak, 10.000 aja.” jawab pedagang aksesoris tersebut yang masih belum dapat memuaskan hati Deris.
Akhirnya, mereka berkumpul kembali di depan sebuah toko oleh-oleh. Di sana, mereka saling menunjukan barang yang berhasil mereka dapatkan. Mereka pun tak lupa mendiskusikan masalah kalung yang ingin dibeli Deris. Hingga akhirnya, Deris pun memilih untuk kembali ke kios aksesoris tersebut. Dan negosiasi pun dimulai kembali. Kesepakatan akhirnya terbentuk di antara mereka. Deris pun berhasil mendapatkan kelung yang sangat ia inginkan itu serta sebuah gelang indah untuk nya dan Ibu nya. Veve yang diminta untuk menemani Deris pun juga berhasil mendapatkan 6 gelang yang masing-masing warna nya berbeda sesuai dengan warna kesukaan masing-masing teman nya.
“Maaf mas, tolong jangan di tengah jalan ya.” pinta seorang pegawai toko oleh-oleh yang melihat posisi duduk Edward sedikit menghalangi jalan. Teguran itu membuat Bella, Edward, Veve, Albert dan Nita yang akhirnya berkumpul kembali, berdiri dan memutuskan untuk melanjutkan kembali perjalanan. Kecuali Deris yang merasa sudah PW (Posisi Wuenak) sehingga tidak ingin beranjak dari tempat nya. Tapi, ia pun berhasil menghalau perasaannya itu.
Tempat parkir di mana montor mereka berada menjadi tujuan mereka sebelum melanjutkan perjalanan menuju Jl. Mataram di mana toko DVD berada. Di tempat parkir pun mereka tak lupa berfoto ria tanpa memperdulikan hujan yang mulai mengguyur mereka.
“Kamu beli DVD apa, Nit?” tanya Deris penasaran ketika mereka telah sampai di toko DVD itu.
“Ada deh. Salah sendiri ga mau ikut masuk toko.” canda Nita.
“Lho, kok gitu sih?? Mang DVD apa to, Ve?”
“Hmm…… Nit, gimana? Dikasih tahu ga?”
“Iya, kasih tahu aja.”
“DVD BBF ug.” ucap Veve menjawab pertanyaan Deris.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju UGM. Dan kebingungan mulai melanda mereka. Pusing kepala mereka mencari jalan menuju UGM yang tak kunjung ketemu. Bahkan mereka harus berulang kali melewati jalan yang sama. Padahal jalan yang mereka lewati tersebut telah membuat rasa takut Edward akan sungai muncul. Trauma nya akan sungai sejak ia kecil muncul kembali dan hal itu membuat ia sedikit resah. Tapi, resah nya pun mulai menghilang setelah Albert memutuskan untuk bertanya kepada seorang bapak ketika berhenti di lampu merah, karena akhirnya mereka mendapatkan petunjuk menuju UGM.
‘Anda memasuki kawasan UGM’, tulisan itu membuat mereka semakin lega dan bahagia. Karena akhirnya mereka sampai juga di UGM. Fakultas teknik, itu lah yang mereka tuju.
“Mbak, paham atau tidak?” tanya seorang satpam yang melihat mereka sedang melihat peta UGM di fakultas kedokteran. Satpam tersebut lantas menghampiri mereka dan memberi penjelasan arah menuju fakultas teknik kepada mereka yang dianggap satpam sebagai siswa SMA yang ingin mendaftar ke UGM.
Foto, foto dan foto. Itu lah yang mereka lakukan ketika sampai di fakultas teknik. Bella, Deris, Albert, Edward, Nita dan Veve. Masing-masing memiliki kenangan di fakultas teknik. Dari foto masing-masing pribadi sampai foto bersama. Benar-benar foto yang indah dan kan selalu mengabadikan kenangan mereka.
“Mbak, foto dulu Mbak.” teriak Albert ketika ada seorang mahasiswi lewat.
“Jeyeg i, aneh-aneh aja!!” ejek Veve yang disusul dengan ledakan tawa teman-teman nya.
“Eh, foto aku waktu loncat dun.” pinta Veve kepada Albert sambil menunjukan wajah sok imoet nya.
“Iya-iya.” Balas Albert. Dan foto itu pun jadi.
“Eh, ayo foto bareng yuk. Sini kumpul. Edward, ayo kumpul. OK, wait, hmmmm……… Nita, kamu tolong agak mundur. Sama kaya Veve tu lo posisi nya. Eh, aku dikasih tempat no. Hmmmm……… OK. Sip!” dengan sabar Deris mengarahkan. Kemudian ia pun segera berlari ke posisi na setelah ia mengaktifkan timer foto.
“La trus tahu ne udah gimana?”
“Diitungi2.” saran Bella yang kemudian disusul dengan suara Edward yang mulai menghitung.
Foto pertama, foto kedua, foto ketiga. Kenangan bersama pun diabadikan kembali dalam sebuah foto. Merasa masih belum puas, Bella pun menyarankan untuk foto di depan gedung utama Fakulas Teknik. Tapi, sayang saran tersebut kurang disetujui Deris dan Nita. Sebab di gedung utama Fakultas Teknik, banyak mahasiswa yang sedang berkumpul. Oleh karena itu mereka tidak mau karena merasa malu.
“Kalo gitu, foto na disana ja, Mi. Nanti gedung fakultas na di kliatanin. Soale kalo cuma foto-foto di sini kan ga ketauan kalo kita foto-foto di UGM.” saran Veve. Akan tetapi, berhubung hari sudah mulai sore, saran tersebut tidak jadi terwujud. Dengan dipandu oleh Bella mereka pun mulai melanjutkan perjalanan menuju Solo.
Dari Bundaran Teknik, mereka mencoba belok kiri. Mereka melewati beberapa gedung seperti gedung jurusan Teknik Geodesi. Mereka pun terkejut bahwa ternyata mereka salah jalan. Mereka malah masuk kelingkup Fakultas Teknik. Akhirnya mereka pun melewati gedung utama Fakultas Teknik. Setelah itu, mereka pun berhasil keluar dari lingkup UGM.
Perjalanan pun dilanjutkan. Dengan dipimpin oleh Edward, mereka berjalan menuju toko oleh-oleh. Dan petualangan pun dimulai. Ternyata jalan dari Galeria ke arah Malioboro merupakan jalan satu arah. Bingung, bingung dan bingung, mencari jalan menuju Solo. Setiap jalan mereka tlusuri dan tak lupa juga bertanya kepada setiap orang yang mereka temui di jalan. Usaha mereka pun membuahkan hasil. Jalan menuju Solo akhirnya mereka temukan. Dan mereka pun segera melesat menuju toko oleh-oleh tersebut.
Sesampai nya di sana, Deris dan Bella segera membeli sebuah bakpia. Sementara Veve dan yang lain pergi ke toilet. Setelah asyik membeli 1 kotak bakpia untuk Bella dan 2 kotak untuk Deris, mereka pun memutuskan untuk ke toilet sebelum melanjutkan kembali perjalan.
Cukup lama Nita, Edward dan Albert menunggu. Akhirnya, Deris dan yang lain pun kembali. Nita, Edward dan Albert pun cukup kesal ketika mengetahui bahwa Deris, Bella dan Veve sempat berfoto-foto sejenak di toilet. Dan itulah yang membuat mereka lama.
Sebelum melanjutkan perjalanan, tak lupa mereka mengenakan kembali mantol yang masih basah karena diguyur hujan. Kemudian montor pun siap untuk membawa mereka kembali ke Solo.
“Aaa……” teriak Veve dan Nita ketika sebuah truk lewat dengan kecepatan tinggi sehingga membuat kubangan air di pinggir jalan terciprat ke samping kanan dan kiri sehingga mengenai Albert, Veve, Bella dan Nita.
Akhirnya baju dan celana Albert, Veve, Bella dan Nita pun basah. Tapi, mereka cukup beruntung, karena mereka mengenakan mantol sehingga baju mereka tidak basah keseluruhan. Sementara mereka mendapat kenangan tidak menyenangkan itu, Edward dan Deris hanya tertawa melihat apa yang terjadi pada teman-teman nya. Mereka berdua hanya beruntung karena tahu bahwa mereka juga akan tersemprot air jika tidak memperlambat perjalanan mereka. Tapi, mereka semua tetap merasa bahagia.
Canda tawa yang terjadi di depan Prambanan tersebut masih berlanjut hingga pom bensin. Ketika sudah waktunya Bella dan Veve mengisi montor mereka masing-masing dengan bensin. Setelah selesai mengisi, mereka semua kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah Edward sebelum harus kembali kerumah masing-masing. Akan tetapi, mereka harus berhenti sejenak menanti Bella yang sedang mengenakan slayer agar tidak meminum air hujan atau pun makan kerikil seperti Edward maupun Albert karena tidak memakai slayer.
Pada akhirnya, kenangan itu tertinggal di Jogja. Ada yang mandi air hujan di depan Prambanan. Ada juga yang sepanjang perjalanan merasakan kerasnya dunia ini dengan makan kerikil dan minum air hujan. Tapi semua itu dirasakan bersama-sama. Walaupun bagaimana capeknya, bagaimana tidak enaknya tetap terasa istimewa.
“Hai, Ve! Baru ngapa??”
“Ah, ga kok Cuma ru nulis cerita aja.”
“O… makan yuk.” ajak Bella.
“OC!” jawab Veve sambil menutup laptop nya.
TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar