Jumat, 30 Juli 2010

SIPA 2010

href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml">Tugas
Nama : H Alvian Putra L
No Absen / Kelas : 17 / 8E


PROLOG SIPA 2010

Jika ada yang pertama, tentu akan ada yang kedua. Jika yang pertama telah memberi pengalaman berharga, maka yang kedua haruslah lebih baik. TAHUN 2009 lalu, tepatnya selama empat malam (7-10 Agustus), Solo International Performing Arts (SIPA) digelar untuk kali yang pertama. Kini di tahun 2010, tepatnya selama tiga malam (16 – 18 Juli mendatang), SIPA akan segera hadir untuk kali yang kedua.

Lalu bayangan seperti apakah yang akan terungkap pada SIPA 2010? Apakah dengan beragam seni pertunjukan akan menghidupkan kembali pesona istana Mangkunegaran yang sarat nilai heritage? Ataukah (juga) dengan seni pertunjukan ingin menghadirkan kembali ribuan masyarakat dari dalam dan luar negeri untuk berduyun datang setiap malam ke sana?

Tentu kondisi yang pernah terjadi pada SIPA 2009 tersebut tetap akan menjadi tujuan. Sebab di antaranya dari sanalah maksud membumikan Kota Solo (semangat SIPA) itu akan bisa dicapai. Namun lebih dari itu, sebagaimana yang kedua harus lebih baik dari yang pertama, ada harapan lain yang harus terus berkembang.

Maka pada mulanya memang seni pertunjukan. Lalu dari keberagaman bentuk dan kultur seni pertunjukan itu, energinya disatukan dalam sebuah semangat SIPA. Namun seterusnya, SIPA harus bisa memberdayakan diri. Berawal dari estetika panggung pertunjukan, dampaknya harus bisa dilebarkan tak hanya di wilayah budaya tapi bahkan juga ekonomi dan sosial.

Itulah SIPA 2010, yang ingin membumikan Kota Solo dan atau bila perlu juga Nusantara.

DASAR PEMIKIRAN

Menjadikan performing arts atau seni pertunjukan sebagai alat pemersatu semangat kebersamaan. Seni pertunjukan yang dimaksud bisa dari wilayah etnik (tradisi), modern atau pun kontemporer. Untuk bentuk pertunjukannya bisa berupa sajian seni tari, teater atau pun musik.

Performing arts atau seni pertunjukan bisa diartikan sebagai salah satu bagian dari kehidupan budaya (intangible). Dengan pengertian tersebut maka seni pertunjukan di Kota Solo bisa mendukung sebutan sebagai Kota Budaya.

Selama ini fungsi seni pertunjukan masih lebih banyak untuk keperluan estetika (masih persoalan kesenian). Padahal di luar itu sesungguhnya bisa dimaknai untuk membangun semangat kebersamaan yang dibangun lewat bahasa panggung. Maka perlu kiranya suatu ruang pertemuan yang tak sekadar mempertemukan estetika namun sekaligus juga bisa menjadi sarana relasi.

TUJUAN

Menyatukan semangat dari keberagaman seni pertunjukan yang ada dengan Solo International Performing Arts (SIPA) 2010 sebagai ruang pertemuannya.

Dengan SIPA 2010, Solo akan menjadi jembatan bertemunya berbagai ragam dan jenis yang ada dalam wilayah seni pertunjukan. Sebutan Kota Budaya pun akan semakin terteguhkan di dalamnya, sekaligus berharap munculnya multi efek dari kegiatan tersebut. Baik itu sosial, ekonomi atau pun politik terkait dengan ketahanan budaya.

SASARAN

Menjalin kekuatan-kekuatan komunitas dan masyarakat seni pertunjukan di Kota Budaya dengan daerah lain untuk kemudian melakukan relasi dengan masyarakat dari mancanegara.

Menumbuh kembangkan kesatuan semangat bersama dalam satu panggung baik untuk seniman atau pun masyarakat pendukung.

Sekaligus memberikan pendidikan kepada masyarakat luas akan kekuatan dunia seni pertunjukan.

AUDIENCE SIPA 2010

Pertama : Komunitas seniman-seniman lokal, seniman nasional dan seniman internasional yang sengaja diundang untuk terlibat dalam kegiatan SIPA 2010. Mereka bisa datang dari seniman tari, teater, musisi atau pun penata panggung.

Kedua : SIPA 2010 sangat menarik untuk kegiatan pariwisata maka SIPA 2010 juga akan mengundang para pelaku pendukung pariwisata. Mulai dari biro travel, perhotelan hingga penerbangan asing.

Ketiga : Masyarakat Solo dan daerah sekitar, yaitu Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, Klaten, dan Karanganyar.

PENDEKATAN PERTUNJUKAN

Pertunjukan yang akan digelar dalam SIPA 2010 sebisa mungkin dilakukan di tempat yang memiliki nilai heritage. Maka pilihannya di kompleks istana Pura Mangkunegaran. Dengan demikian, SIPA sekaligus dapat memberdayakan tempat-tempat bersejarah.

Selanjutnya, sajian seni pertunjukan yang berasal dari wilayah etnik diharapkan bisa menggali nilai-nilai kearifan lokal dari tradisi masyarakatnya. Sementara seni pertunjukan yang modern dan kontemporer diharapkan bisa sebagai sarana untuk menghadapi tantangan zaman. Termasuk dalam perspektif seni menuju industri kreatif.

PERGELARAN

Solo International Performing Art (SIPA) 2010 akan diselenggarakan pada tanggal 16, 17 dan 18 Juli 2010 di Pamedan Pura Mangkunegaran. Pertunjukan meliputi wilayah etnik, modern atau pun kontemporer, yang diharapkan bisa sekaligus mengkomunikasikan nilai heritage pada kawasan pertunjukkannya.

Penyelenggaraan SIPA 2010 akan dilakukan setiap malam selama tiga hari. Pergelaran ini diharapkan bisa menjadi ruang bagi seniman yang terlibat, untuk saling berelasi dengan seniman yang lain. Sehingga akan muncul ruang-ruang kreatif dari komunikasi yang dibangun secara bersama.

LOKASI

Pamedan Pura Mangkunegaran

Kawasan ini memiliki nilai heritage yang tinggi seiring dengan sejarah perkembangan kadipaten Mangkunegaran. Istana yang didirikan oleh Pangeran Sambernyawa (KGPAA Mangkunagoro I) pada 14 Maret 1757 ini letaknya juga strategis karena berada di tengah kota.

Selain itu mengingat Pura Mangkunegaran sebagai salah satu tempat bersejarah maka diharapkan dapat sekaligus mempromosikan Pura Mangkunegaran kepada dunia. Tentu saja melalui partisipasi para delegasi yang menjadi peserta SIPA 2010.

PESERTA

Peserta selain dari komunitas seniman lokal juga akan melibatkan seniman-seniman dari dalam dan luar negeri. Mereka yang akan terlibat sudah melalui proses seleksi yang ketat, sehingga telah memenuhi kriteria.
Adapun peserta yang akan terlibat adalah sebagai berikut:
Dalam Negeri : 9 Delegasi

Luar Negeri : 6 Delegasi



Dari 20 peserta event dua tahunan itu, 7 di antaranya merupakan penampil dari luar negeri, seperti Austria, Jerman, dan Timor Leste. Pergelaran itu digeber selama tiga malam. Acara itu cukup memberikan hiburan bagi warga Kota Solo sambil menghabiskam malam di akhir pekan. Apalagi acara itu gratis.

Meski tontonan gratisan, para seniman internasional tidak menampilkan atraksi murahan. Sebut saja penampil dari Austria, Volkstanzgruppe Markt Allhu Buchschachen yang menampilkan tarian rakyat yang menarik.

Selain Austria, enam negara lainnya adalah Jerman, Jepang, Meksiko, India, Malaysia, dan Timor Leste juga menyuguhkan atraksi seni menarik. Dan tentu saja delegasi daerah di Tanah Air juga menarik untuk disimak. Satu di antaranya kelompok kesenian Wargo Budoyo dari kaki Gunung Merapi yang menampilkan tentang pengusir kejahatan dari gunung.

TARI TIMOR LESTE

Tari yang dibawakan mahasiswa/i Timor Leste yang sedang menjalani masa studi di DI Yogyakarta, merupakan Tarian Tradisional Timor Leste yang lebih dikenal dengan nama TEBE TEBE HO DAHUR�, sebagai apresiasi mereka terhadap budaya dan musik tradisional Timor Leste, yang menurut meeka harus terus dilestarikan.

Tari Tebe “ Tebe Ho Dahur ini dibawakan pada hari “ hari penting seperti, saat Panen, Upacara Adat, serta pada saat menerima Tamu (Guest Welcoming). Tarian ini juga mencerminkan suatu kebahagiaan yang besar. Rasa bahagia karena mendapat tamu, ataupun juga rasa bahagia karena panen yang bagus dan memuaskan.

Dalam tarian yang berdurasi ±14 menit dan dibawakan oleh 19 orang penari dan 6 orang pemusik ini, kami menggunakan pakaian dan aksesoris “ aksesoris tradisional dari 13 Distrik yang ada di Timor Leste, yang mencerminkan persatuan dan kesatuan kami sebagai suatu bangsa yang utuh dan kokoh.

Warga Budoyo (Magelang)

Warga Budoyo merupakan sebuah kelompok tari yang berasal dari Dusun Gejayan, Kabupaten Magelang. Dusun Gejayan, desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang adalah sebuah pedusunan yang terletak di lereng gunung Merbabu. Dengan kenyataan ini warga dusun Gejayan yang sebagian besar bermata pencaharian petani berusaha menyesuaikan diri dalam mengolah alam lingkungannya. Warga di Dusun Gejayan mengembangkan beberapa kesenian dan menjalankan upacara ritual seperti yang dilakukan pada bulan Syawal yaitu ‘sungkem tlompak’. Merupakan sebuah upacara untuk memohon agar air senantiasa mengalir di dusun tersebut. Kesenian yang menjadi ciri khas lereng Merbabu adalah Soreng, yang berkarakter keras dan lincah. Demikian pula dusun Gejayan, mereka memiliki grup Soreng yang cukup andal dan termasuk diperhitungkan di wilayahnya. Di samping Soreng, dusun Gejayan juga mengembangkan kesenian trunthung yang dipadukan dengan gamelan. Dua tahun terakhir ini mereka bahkan mengembangkan kesenian Rodat yang penarinya ibu-ibu dusun Gejayan.

Untuk SIPA 2010 Wargo Budoyo akan menampilkan Gladiator Gunung yang menceritakan tentang perjuangan untuk bertahan hidup di alam pegunungan bagaikan perkelahian yang multi dimensi. Menggunakan otak atau otot, dilandasi nafsu dan gairah, berdasarkan ilham atau wangsit, bagi masyarakat agraris adalah perkelahian tanpa tujuan kemenangan. Yang penting berkelahi atau berjuang untuk dinamika hidup.

Tarian-Tarian Rakyat Dalam SIPA (SOLO INTERNASIONAL PERFORMING ART) 2010

Empat penari berdiri berdampingan. Dua di antaranya adalah wanita, masing-masing berdiri di pinggir. Tangan mereka saling memeluk pinggang satu sama lain. Lantas, mereka melakukan gerakan berlari memutar yang cukup cepat. Dan, dua orang wanita itu pun terlihat terbang!

Tarian itu merupakan salah satu reportoar yang dipentaskan oleh kelompok tari rakyat Markt Allhau dalam perhelatan Solo International Performing Art (SIPA) 2010 di Pamedan Pura Mangkunegaran Surakarta, Jawa Tengah, Jumat malam kemarin. Kelompok tari asal Austria itu tampil di malam pertama dalam perhelatan yang akan digelar selama tiga malam tersebut.

Pentas seni bertaraf internasional itu diselenggarakan berdekatan dengan Solo International Contemporary Ethnic Music (SIEM) Festival 2010, yang digelar pekan lalu. Meski demikian, pementasan yang mengambil tempat di Keraton Mangkunegaran itu tetap saja menyedot perhatian ribuan penonton.

Kelompok tari rakyat Markt Allhau, salah satu penyaji dalam pembukaan SIPA 2010, membawakan delapan buah tarian, yang sangat mirip dengan gerakan dansa. Tarian itu dibawakan oleh sekelompok muda mudi secara berpasangan.

Gerak dansa yang dibawakan oleh kelompok tersebut sebetulnya cukup sederhana. Kebanyakan berupa gerakan melangkah dan berputar secara berpasangan. Hampir tidak terlihat adanya gerakan dansa yang sulit, kecuali gerakan terbang dalam tarian berjudul Keiner Mann. Tarian ini merupakan tarian tradisional di sana. “Tarian tradisi itu lahir 200 tahun yang lalu,” kata pimpinan Markt Allhau, Paul Erdely.

Wajar, jika penonton seakan diajak melihat kehidupan di masa lampau. Sebab, mereka menggunakan pakaian yang cukup klasik, baju warna putih dengan dilengkapi rompi hitam. Mereka melakukan dansa dengan iringan alat musik tunggal berupa Styrian Concertina, alat musik khas Provinsi Burgenland, Austria bagian timur. Sepintas, bentuk alat musik itu mirip dengan akordeon.

Paul menceritakan, tarian rakyat itu sebenarnya pernah hampir punah saat meletusnya Perang Dunia II. Saat itu hampir tidak ada seniman yang berpikir untuk berdansa di tengah kemelut perang. Setelah perang usai, masyarakat kembali membutuhkan kesenian untuk menghilangkan trauma mereka.

Tarian tradisi juga dibawakan oleh kelompok Wargo Budoyo asal Dusun Gejayan, Magelang, Jawa Tengah. Kelompok dari lereng gunung Merbabu itu membawakan karya Gladiator Gunung, yang merupakan perpaduan beberapa tarian rakyat khas warga lereng gunung.

Tiga tarian yang dipadukan adalah Geculan Bocah, Kipas Mega, dan Soreng. Ketiga tarian itu diiringi dengan musik truntung yang dipadukan dengan gamelan.

Tarian yang menggambarkan mengenai perjuangan hidup warga lereng gunung itu memiliki irama yang cepat. Mereka menonjolkan gerakan-gerakan kaki yang menjejak kuat ke tanah. “Gerakan masyarakat yang selalu naik dan turun gunung,” ujar Pimpinan Wargo Budoyo, Riyadi. Gerakan tersebut memiliki irama tersendiri, dengan dipasangnya kerincingan di kaki mereka. Menurut Riyadi, kesenian tersebut hingga kini masih hidup di tengah masyarakat lereng Merbabu.

Tarian rakyat memang menjadi sajian utama dalam SIPA 2010, baik tarian yang masih tradisional maupun yang kontemporer. “Porsinya mencapai 60 persen,” kata Ketua Panitia SIPA 2010, Irawati Kusumorasri. Sisanya, dibagi antara teater dan musik.

Dalam perhelatan yang akan digelar selama tiga malam berturut-turut itu, penyelenggara menghadirkan 21 delegasi. Tujuh di antaranya berasal dari luar negeri. Selain dari Austria, seniman asing juga datang dari Jepang, Malaysia, dan Meksiko.

Penataan artistik panggung SIPA 2010 cukup memukau. Panggung megah dibangun dengan dilatarbelakangi sebuah bangunan kuno, Kavallerie-Artillerie milik Mangkunegaran. Bangunan tua itu terlihat temaram dengan adanya tabir dari sehelai kain tipis berwarna putih. Lampu bermotif bunga warna warni ditembakkan ke permukaan kain, sehingga pertunjukan lebih menarik.



































































Pemerintah Kota Surakarta menggelar pertunjukan kesenian Solo International Performing Art (SIPA) II 2010, di Pamedan Pura Mengkunegaran, pada tanggal 16-18 Juli.
"SIPA II tahun ini, mengambil tema Kesenian Rakyat," kata Ketua panitia SIPA 2010, Irawati Kusumarasri, di Solo, Kamis.
Menurut Irawati, SIPA adalah sebuah ajang pagelaran berskala internasional dengan materi berupa seni pertunjukan. Pertunjukan itu, dimaksudkan wilayah genre seninya mulai dari tari, musik, teater, dan atau melebar ke seni aslinya.
Ia menjelaskan, tema kesenian rakyat tersebut bisa dimaknai sebagai penyatuan antara masyarakat dan alamnya. Tak hanya bicara estetika semata, tetapi juga tentang sekelompok masyarakat dengan gunung, laut, sawah atau representasi komunitas dengan lingkunganya.
Menurut dia, tema kesenian rakyat SIPA tahun ini, jika di negara barat dikenal dengan "folkdance" atau tarian rakyat. Tema itu, akan banyak hal yang bisa diangkat, termasuk nilai kearifan lokal yang menjadi penting dalam kehidupan masyarakat sekarang.
Ia menjelaskan, pada mulanya seni pertunjukan dari keanekaragaman bentuk dan kultur seni tersebut, energinya disatukan dalam semangat SIPA.
Namun, kata dia, SIPA tahun ini akan selalu memberdayakan diri benar-benar dapat membumikan Kota Solo. Jika perlu harapannya lebih luas lagi, hingga tingkat Nusantara.
Pada acara pembukaan SIPA, kata dia, tidak hanya bermuara dalam kemeriahan, tetapi juga bagaimana dapat mengungkap tentang keramahan Kota Solo.
"Kami akan menonjolkan kawasan Pemedan Pura Mangkunegaran yang memiliki nilai sejarah dengan mengemas lewat tata panggung, latar belakang gedung kabaleri. Sehingga, semakin terasa artistik,` katanya.
Menurut dia, artistik panggung akan bertambah ketika acara pembukaan dikemas dengan seni pertunjukan yang melibatkan 60 anak dari Pusat Olah Seni Semarak Cadrakirana.
Pada acara pembukaan, kata dia, juga menghadirkan maskot SIPA 2010 yakni, Dewi Sri yang diperankan Sruti Respati yang akan menyuguhkan kidung "mantra" bertanda pegelaran dimulai. Ia menjelaskan, SIPA tahun ini, selain diikuti puluhan grup kesenian daerah lokal, juga akan dihadiri delegasi dari lima negara yakni Jerman, Malaysia, Jepang, Austria, India dan Timor Leste.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar